DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS NEGARI SEMARANG

FAKULTAS ILMU SOSIAL

 

 

PROPOSAL

 

NAMA                            :      RISKY ARIYANI
PRODI                           :      PEND. SOSIOLOGI & ANTROPOLOGI
JURUSAN                         :      SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS                     :      ILMU SOSIAL
 

 

  1. A.      JUDUL

PERILAKU KONSUMTIF MASYARAKAT KUDUS DALAM BERBELANJA PADA HARGA KHUSUS DAN HARGA UMUM DI PASAR SWALAYAN ADA KUDUS.

 

  1. B.       LATAR BELAKANG

Perkembangan zaman bukanlah hal yang harus menghilangkan tradisi yang sudah melekat di dalam masyarakat. Kemajuan merupakan hasil kreatifitas manusia sebagai makhluk berpikir dan bertindak dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Hasil dari kreatifitas juga harus dapat menjaga tradisi yang ada sebelumnya. Karena merupakan upaya kreatifitas para pendahulu kita. Meninggalkan tradisi sebelumnya justru dapat membuat kita kehilangan jati diri atau identitas yang sebenarnya. Persatnya perubahan menuntut masyarakat mengubah pola hidup menyesuaikan dengan jaman, yang sering kita lalai pada jati diri kita sendiri.

Kemajuan sosial ekonomi yang begitu pesat, ditambah masuknya kebudayaan pop yang notabene didominasi kebudayaan barat. Kebudayaan pop (pop culture) ditandai dengan indutrialisasi barang-barang budaya saperti makanan, pakaian dan kesenian, tapi lebih dari itu, kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena globalisasi. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang maju dan berkembang pesat khususnya di kota-kota besar, telah terjadi perubahan diberbagai sektor, termasuk dibidang industri dan produksi serta pada kegiatan eceran di Indonesia yang telah berkembang menjadi usaha yang berskala besar. Perkembangan bisnis eceran yang pesat ini tidak lepas dari faktor meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan juga meningkatkan jumlah pendapatan perkapita penduduk Indonesia yang menyebabkan taraf hidup masyarakat Indonesia semakin meningkat. Hal ini membawa dampak kepada pola perilaku belanja seseorang, dimana semakin meningkatnya taraf hidup seseorang maka tuntutan akan tempat berbelanja yang nyaman dan dapat menyediakan segala kebutuhan konsumen dalam satu lokasi semakin dibutuhkan.

Perkembangan yang terus menerus berlangsung dalam perdagangan eceran ini menunjukkan bahwa perdagangan eceran bersifat dinamis. Hal ini terjadi tidak lain karena perdagangan eceran ingin selalu berusaha memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (perdagangannya). Bentuk usaha eceran yang mengalami perkembangan cukup pesat adalah : supermarket (pasar swalayan). Dewasa ini perkembangan pasar swalayan di tanah air, tampak cukup pesat. Hampir di setiap ibukota propinsi dan kota-kota besar lainnya bermunculan pasar swalayan dengan berbagai fasilitas dan pelayanan yang semakin lengkap. Pasar swalayan sebagai ujung tombak pemasaran akan terus bertambah, dan yang sudah ada terus dikembangkan hingga menjadi superstore yaitu pasar swalayan yang menyediakan kebutuhan masyarakat yang selengkap-lengkapnya.

Sesungguhnya fenomena proses peleburan ini mengalami ketidakseimbangan yang nyata. Pada masyarakat yang lebih menguasai teknologi modern hegemoni budayanya lebih dominan dibanding masyarakat yang berkembang teknologinya tergolong lambat. Maka tidak heran supremasi perilaku, pola interaksi dan gaya hidup masyarakat negara berkembang. Proses peleburan budaya yang tidak seimbang tersebut itu sendiri kemudian dimaknai sebagai modernitas. Perubahan pola interaksi dan gaya hidup masyarakat berdampak pada perubahan tuntutan kebutuhan hidup yang serba instan.

Pembangunan ekonomi negeri kita yang telah berlangsung selama tigapuluh tahun terakhir ini, ternyata telah melahirkan suatu kelompok sosial yang konsumtif. Pada dasarnya, sistem ekonomi pada masyarakat modern berbeda dengan pada masyarakat tradisional. Pada dasrnya masyarakat modern yang hidup dengan sistem ekonomi pasar, gejala ekonomi tampil sebagai suatu institusi sosial yang berdiri sendiri, karena pasar memiliki potensi sistemik untuk mengatur kondisi dirinya sendiri. Sebaliknya pada masyarakat tradisional sistem ekonomi terjalin menyatu dengan institusi sosial lainnya, dengan sistem kekerabatan dengan sitem religi, dengan sistem politik lokal dan lainnya. (Polanyi dalam Sairin 2002:17).

Merebaknya “doktrin” konsumtivisme ini, agaknya telah terlanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern. Manusia modern telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi lain. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya proses dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten dan cermat yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis dan serba cepat.

Dalam era globalisasi gaya hidup yang konsumtif bukan ada karena sendirinya melainkan sengaja dibentuk, selain untuk memperkaya pemilik  mega industri di negara-negara asing juga untuk melancarkan pencapaian tujuan globalisasi yaitu perasaan yang sama, dimana kebudayaan-kebudayaan di berbagai pelosok dunia disatukan disatukan kedalam satu format budaya, yaitu budaya barat sabagai pelaku utama.

Dapat diamati pada satu sisi bahwa globalisasi secara konkret memberikan kelimpahan material. Tapi di sisi lain menciptakan penduniaan budaya konsumtif yang mengancam paradaban manusia. Budaya konsumtif yang dikemas salama gaya hidup internasional dan merupakan simbol modernitas dan instan.

Dampaknya akan panjang jika gaya hidup konsumtif ini tak segera diminimalisisr. Di sektor riil, pengusaha produk lokal makin tertekan karena derasnya arus impor barang oleh pemerintah untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang sudah terlanjur menyukai dengan merk luar.

Dalam era pembangunan dewasa ini mengalami perkembangan dan perumbuhan penduduk yang cukup pesat, menyebabkan manusia cendrung untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Salah satunya dalah pemenuhan akan kebutuhan sandang dan pangan, karena pada hakekatnya merupakan kebutuhan yang utama bagi setiap orang. Di indonesia akhir-akhir ini  pasar swalayan berkembang sangat cepat. Pasar swalayan dapat diartikan sebagai tipe toko eceran yang bergarak dalam kebutuhan makanan dan miniman serta kebutuhan rumah tangga lainnya, yang beroperasi atas dasar swalayan dengan pelayan yang sedikit mungkin, penawaran harga yang menawan dan biasanya ada tempat parkir yang luas (Suud, 1994:14).

Pasar swalayan memiliki keunggulan dari pasar tradisional. Yakni harga barang yang murah, kemasan rapi, jenis barang yang lengkap, situasi yang bersih dan nyaman, menjadikan pasar swalayan sebagai sebauh one stop shopping. Dalam hal ini, sesuatu yang diingin masyarakat adalah bagaimana cara untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan serta menyediakan beranekaragam produk dan alternatif pilihan, harga bersaing, pelayanan dan fasilitas yang memuaskan serta suasana berbelanja yang nyaman. Swalayan berarti pembeli menjalankan sendiri proses pencarian produk yang akan dibelinya, menemukan, lalu membandingkan dan memilih yang sesuai dengan kebutuhan.

Dengan banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang retail di negara ini yang terus meningkat menyebabkan tingkat persaingan di bidang bisnis retail yang ada semakin ketat sehingga menuntut pihak pengusaha untuk menyusun kebijakan dalam rangka menghadapi persaingan yang ada. Salah satu usaha untuk menghadapi persaingan tersebut adalah perusahaan tersebut harus lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan pasar sasaran yang tepat. Dalam hal ini, perusahaan harus benar-benar efektif dan tepat dalam menerpakan strategi persaingan pemasaran. Semua aspek persaingan pemasaran merupakan suatu mata rantai yang tidak dapat terpisahkan dan saling mempengaruhi.

Untuk memahami kebutuhan konsumen bukanlah hal yang mudah dan sederhana, tetapi bukan hal yang mustahil untuk melakukannya. Menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila perusahaan memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan, kekuatan faktor sosial dan budaya serta prisip-prinsip ekonomis dan strategi pemasaran. Kemampuan dalam menganalisis perilaku konsumen berarti berhasil dalam menyelami jiwa konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian berati pula keberhasilan pengusaha, ahli pemasaran, pemimpin toko, dan pramuniaga dalam memasarkan suatu produk yang membawa kepuasan konsumen.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak menejemen untuk mengetahui secara mendalam keinginan dan kebutuhan konsumen adalah dengan melacak dan menelusuri sikap-sikap konsumen dalam bentuk perilaku konsumen. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam menentukan pilihan yang akan dibeli dan dikonsumsi, sehingga perusahaan dapat mengetahui perilaku konsumen yang merupakan  cerminan alasan seseorang konsumen membeli suatu produk. Namun disadari usaha pasar swalayan tak ubahnya seperti usaha-usaha lainnya yang didalam usahanya meningkatkan penjualan juga diliputi oleh persaingan. Dalam situasi persaingan setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh suatu pasar swalayan dengan maksud untuk menandingi atau mengambil kesempatan yang ada. Timbulnya keadaan seperti itu menandakan bahwa manajer atau pengusaha semakin menyadari pentingnya mempertahankan dan memperluas pasar untuk kesinambungannya. Pada dasarnya keberhasilan usaha dibidang retail ini berada pada pengadaan barang, baik secara kuantitas maupun kualitas, serta harga yang rendah guna meningkatkan jumlah kunjungan.

Untuk menghadapi persaingan ini dan agar tetap ramai dikunjungi konsumen, maka supermarket harus melakukan berbagai jenis upaya dalam kegiatan pemasarannya agar menarik dan sesuai dimata konsumen. Oleh karena itu, pihak swalayan  harus tanggap terhadap atribut-atribut apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu swalayan, karena pada saat ini konsumen sudah semakin kritis terhadap kemampuan suatu swalayan dalam menarik pembelinya untuk berbelanja di suatu swalayan. Untuk memenangkan persaingan mereka (perusahaan) memanfaatkan peluang bisnis yang ada dan berusaha untuk menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka untuk menguasai pasar. Penguasaan pasar merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya, berkembang dan mendapatkan laba semaksimal mungkin.

Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan agar sukses dalam persaingan adalah berusaha mencapai tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Hal tersebut bisa dicapai oleh suatu perusahaan melalui upaya menghasilkan dan menyampaikan barang dan jasa yang diinginkan konsumen, dimana kegiatan tersebut sangat tergantung pada perusahaan atau pedagang dengan bermacam atribut seperti harga produk pelayan maupun lokasi dan perilaku konsumen dalam untuk berbelanja.

Dalam menghadapi persaingnya, perusahaan harus mempunyai strategi dan ketegasan langkah yang harus dilaksanakan sesuai dengan sifat dan bentuk pasar yang dihadapinya. Strategi pasar itu meliputi pelayanan yang memuaskan, harga yang lebih murah ditambah potongan harga apabila pembelian dalam jumlah banyak, produk yang lebih bermutu, kemasan yang menarik, serta ditunjang lokasi yang strategis dan tempat yang nyaman akan mempengaruhi keputusan konsumen untuk berbelanja. Untuk itu perusahaan harus mampu mempengaruhi pembeli untuk bersedia membeli barang-barang yang ditawarkan oleh perusahaan atau toko tersebut.

Akhir-akhir ini saya mendapatkan pemandangan yang aneh terhadap perilaku belanja masyarakat perkotaan. Berbelanja saat diskon besar-besaran adalah hobi baru bagi para penggemar belanja. Ini adalah penawaran diskon ‘besar-besaran’ hingga 80% yang dilakukan oleh beberapa pasar swalayan.

Program potongan harga/harga khusus ini ternyata mampu menyedot ribuan orang untuk berbondong-bondong datang ke pusat perbelanjaan, hingga menyebabkan kemacetan jalan-jalan menuju pusat perbelanjaan dan antrian panjang saat berbelanja. Mereka rela antri berjam-jam dan berdesak-desakan demi untuk mendapatkan harga diskon untuk produk-produk yang mereka inginkan.

Jadi masyarakat pada masa sekarang tidak bisa dipisahkan dari konsumsi dan pasar khususnya pasar modern atau pasar swalayan karena masyarakat membutuhkan pasar guna memenuhi kenutuhan mereka. Kegiatan mengkonsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan perilaku konsumtif masyarakat. Perilaku konsumtif adalah perilaku manusia yang melakukan kegiatan konsumsi yang berlebihan. Dan pasar swalayan ADA Kudus sendiri salah satu pasar swalayan terbesar dan berada tidak jauh dari pusat kota Kudus sendiri. Atas dasar uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perilaku Konsumtif Masyarakat Kudus Dalam Berbelanja Pada Harga Khusus Dan Harga Umum Di Pasar Swalayan Ada Kudus”.

 

  1. C.      IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas guna membatasi masalah maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut:

  1. Bagaimana mayarakat menyikapi pasar tradisional dengan pasar modern yang ada di Kudus?
  2. Bagaimana Masyarakat Kudus menyikapi adanya pasar swalayan ADA Kudus?
  3. Bagaimana masyarakat Kudus menyikapi ketika ada harga khusus dan harga umum?
  4. Adakah perbedaan ketika ada harga khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA?

 

  1. D.      PERMASALAHAN

Berdasarkan uraian di atas maka permasalhan yang muncul adalah “ Bagaiman perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga Khusus dan Harga umum di Pasar Swalayan ADA Kudus”.

Permasalah tersebut dapat dirinci ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut:

  1. Bagaimana perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja saat harga Umum di pasar swalayan ADA Kudus?
  2. Bagaimana perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja saat harga umum di pasar swalayan ADA Kudus?

 

 

 

  1. E.       TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui aktivitas pemebli dalam berbelanja di pasar swalayan ADA Kudus.
  2. Untuk mengetahui bagaiman perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga Khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA Kudus.

 

  1. F.       MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini dapat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis.

  1. Manfaat teoritis dalam penelitian
    1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan disiplin ilmu sosiologi dan antropologi mengenai bagaimana perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada saat harga khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA kudus.
    2. Dapat memberikan wawasan kepada pembaca tentang perilaku konsumtif masyarakat Kudus.
    3. Hail penelitian ini diharapkan menjadi referensi sehingga dapat dibaca.
    4. Manfaat praktis dari penelitian
      1. Sebagai bahan perbandingan studi mendatang.
      2. Memberikan informasi pada pemerintah dan masyarakat setempat untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada saat harga khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA kudus.

 

  1. G.      PENEGASAN ISTILAH
    1. 1.         Pasar Swalayan

Pasar swalayan menurut Suud (1994:14) dapat diartikan sebagai tipe toko eceran yang bergerak dalam kebutuhan makanan dan minuman serta kebutuhan rumah tangga lainnya, yang beropersi atas dasar swalayan dengan pelayan yang sedikit mungkin. Penawaran harga yang menawan dan biasanya ada tempat parkir yang luas.

Menurut Ma’ruf (2005:73) bahwa pasar swalayan adalah penataan barang menurut keperluan yang sama dikelompokkan di bagian yang sama yang dapat dilihat dan diambil langsung oleh pembeli, penggunaan alat pendingin dan adanya pramuniaga profesional.

Adapaun yang dimaksud dengan pasar swalayan dalam penelitian ini adalah pasar yang penataan barang menurut keperluan yang sama dikelompokkan di bagian yang sama yang dapat dilihat dan pembeli dapat mengambil langsung, serta penggunaan alat pendingin udara dan mempunyai parkir yang luas.

  1. 2.         Pembangunan

Menurut Salim (2002:263) mengatakan bahwa pembangunan adalah suatu proses perencanaan sosial (social plan) yang dilakukan oleh birokrat perencanaan pembanguna, untuk membuat parubahan sosial yang akhirnya dapat mendatangkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat.

Menurut Pasaribu J.L (1982:5) bahwa pembangunan adalah suatu proses yang ditimbulkan demi terciptanya kondisi kemajuan ekonomi dan sosial.

Menurut Joyomartono (1991:61) bahwa pembangunan adalah usaha untuk mengembangkan dan merealisasi potensi yang terdapat di dalam keempat faktor dasar pembangunan yaitu manusia, lingkungan sosial budaya, lingkungan fisik dan non fisik sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup, meningkatkan pengelolaan sumber daya alam serta sumber daya manusia, meningkatkan kemampua menciptakan saran hidup dalam bentuk ilmu dan teknologi serta penyesuaian tata kemasyarakatan dangan perubahan kehidupan sebagai hasil pembangunan.

Adapun pengertian pembangunan dalam penelitian ini adalah upaya sadar yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk melakukan perubahan sosial, khususnya perubahan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dalam bentuk fisik dan non fisik yang berupa pembagunan gedung swalayan terhadap masyarakat disana.

 

  1. 3.         Perubahan

Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti tiddak mencolok. Adapula perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun luas, serta perubahan yang lambat sekali, dan ada juga yang berjalan dengan cepat.

Perubahan dapat diartikan sebuah dinamika yaitu sebagai gerak/kekuatan yang dimiliki sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan (Depdikbud, 1989:206). Sedangkan dinamika menurut Antoni (2003:95) adalah suatu proses atau gerak yang menjadi pangkal segala perubahan dalam kehidupan masyarakat. Adapun yang dimaksud dengan dinamika dalam penelitian ini adalah perubahan perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja.

  1. 4.         Dampak

Dampak adalah pengaruh kuat yang mendatangkan akibat baik positif mauoun negatif. Dampak berarti suatu hal atau peristiwa yang mendahuluinya dampak juga berarti suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat dari suatu peristiwa. Dampak dalam penelitian ini adalah perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja. Bila dilihat dari sisi negatifnya, maka perilaku konsumtif akan menimbulkan dampak:

  1. Pola hidup yang boros dan akan menimbulkan kecemburuan sosial, karena orang akan membeli semua barang yang diinginkan tanpa memikirkan harga barang tersebut murah atau mahal, barang tersebut diperlukan atau tidak, sehingga bagi orang yang tidak mampu mereka tidak akan sanggup untuk mengikuti pola kehidupan yang seperti itu.
  2. Mengurangi kesempatan untuk menabung, karena orang akan lebih banyak membelanjakan uangnya dibandingkan menyisihkan untuk ditabung.
  3. Cenderung tidak memikirkan kebutuhan yang akan datang, orang akan mengkonsumsi lebih banyak barang pada saat sekarang tanpa berpikir kebutuhannya di masa datang.
  4. 4.         Perilaku Konsumtif

Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas individu bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu sendiri. Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh individu baik yang bisa diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku baru akan terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni rangsangan. Dengan demikian, maka suatu rangsang tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Notoatmojo 2003:123).

Istilah perilaku konsumtif diartikan sebagai perilaku yang menunjukkan oleh orang-orang dalam merencanakan, membeli dan menggunakan barang-barang ekonomi dan jasa. Yang menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada masyarakat ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh masyarakat di luar kemampuan dengan sumber dana yang ada.

Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok mayarakat. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

  1. 5.         Masyarakat Kudus

Masyarakat adalah suatu himpunan manusia yang hidup bersama dalam suatu daerah tertentu yang memiliki hakekat bersama dan terikat oleh suatu adat yang disebut kebudayaan. Dan Kudus sendiri adalah sebuah kota yang secara geologis terletak di Jawa Tengah tepatnya di sebelah utara pulau Jawa sekitar kurang lebih 51 km ke arah timur ibu kota Jawa Tengah semarang. Penduduk dari kota Kudus sendiri adalah sekitar kurang lebih 704.137 jiwa.

Kota Kudus sangat strategis letaknya, karena merupakan penghubung daerah-daerah sekitarnya. Baik dari daerah sebelah timur maupun daerah sebelah barat. Seperti misalnya dari arah timur adalah Pati, Tayu, Juwana, Rembang, Lasem, dan Blora. Sedangkan dari arah barat adalah Mayong, Jepara, dan Bangsri. Kota Kudus sendiri mempunyai banyak sebutan, yaitu terkenala dengan Kudus kota kretek, Kudus kota jenang, dan Kudus kota santri yang diambil karena masyarakat sekitar menara Kudus mayoritas sebagai santri dan karena kudus mempunyai 2 Sunan yaitu Sunan Kudus yang berada di Menara Kudus, dan Sunan muria yang bermukim di atas Gunung Muria.

Pasar swalayan ADA Kudus sendiri strategis sekali yaitu di Jl. Kudus Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tidak jauh dari pusat kota Kudus sendiri.

  1. 6.         Harga

Harga merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran / marketing mix (4P = product, price, place, promotion / produk, harga, distribusi, promosi). Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter. Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa. Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan.

Tujuan Penetapan Harga (1) Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya
Dengan menetapkan harga yang kompetitif maka perusahaan akan mendulang untung yang optimal. (2) Mempertahankan perusahaan dari marjin keuntungan yang didapat perusahaan akan digunakan untuk biaya operasional perusahaan. Contoh : untuk gaji/upah karyawan, untuk bayar tagihan listrik, tagihan air bawah tanah, pembelian bahan baku, biaya transportasi, dan lain sebagainya. (3) Menggapai ROI (Return on Investment). Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang ditanam pada perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat akan mempercepat tercapainya modal kembali / roi. (4) Menguasai Pangsa Pasar, dengan menetapkan harga rendah dibandingkan produk pesaing, dapat mengalihkan perhatian konsumen dari produk kompetitor yang ada di pasaran. (5) Mempertahankan status quo, ketika perusahaan memiliki pasar tersendiri, maka perlu adanya pengaturan harga yang tepat agar dapat tetap mempertahankan pangsa pasar yang ada.

Harga umum dalam hal ini yang dimaksud oleh peneliti adalah harga dimana memang telah menjadi kesepakatan bersama oleh beberapa produsen untuk menjual produk dengan harga standarnya. Dan biasanya dalam cakupan satu daerah hampir sama harga yang ditaearkan untuk satu produk. Dan konsumen kebanyakan tahu akan hal itu.

Harga khusus atau biasa disebut potongan harga adalah program/strategi umum perusahaan untuk lebih menarik konsumen untuk membeli produknya dengan cara memberikan atau menambahkan diskon di atas diskon normal. Tujuan perusahaan melakukan program ini ada 2, yaitu lebih meningkatkan penjualan (berdasarkan evaluasi bahwa diskon normal tidak menghasilkan penjualan yang maksimal) atau menghabiskan stok. Atau Adalah program/strategi perusahaan untuk mendorong penjualan produknya dengan cara memberikan potongan harga khusus pada: konsumen, momen, atau produk tertentu yang berbeda dari diskon normal. Besar potongan tergantung kepada kebutuhan dan strategi perusahaan (tidak harus dengan diskon besar-besaran).

 

  1. H.      TINJAUAN PUSTAKA
    1. 1.         Teori Perubahan

Untuk memahami tentang perubahan sosial dapat dipelajari dari bebarapa kajian, misalnya kajian Soekanto, Geertz, dan Koentjaraningrat. Soekanto (1992:337) menjelaskan perubahan-perubahan sosial dari segi konsep yaitu perubahan sosial merupakan sosial merupakan proses wajar dan akan berlangsung secara terus menerus. Namun, tidak semua perubahan sosial mengarah ke perubahan positif. Dalam kaitannya dengan pembangunan, maka suatu pembangunan hanya dapat dicapai melalui proses perubahan sosial. Dalam kaitannya dengan modernisasi, adanya perubahan sosial menjadi jalan atau pintu yang membuka manusia modernisasi dan keberlangsungan pembangunan, dibutuhkan kondisi perubahan kondisi perubahan sosial yang progresif.

Perubahan sosial merupakan segala aspek perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga ke masyarakat di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam hal ini, teori fungsional struktural berpendapat suatu perubahan struktur, yaitu perubahan yang menyangkut nilai-nilai dasr terjadi karena pengaruh sistem yang ada di luar suatu sistem yang berubah tersebut.

Sebab-sebab perubahan-perubahan sosial sumbernya ada yang terletak di dalam masyarakat ada yang terletak di luar. Faktor-faktor yang menyebabkan peubahan sosial dan kebudayaan dari masyarakat sendiri adalah sebagai berikut: (1) bertambahnya atau berkurangnya  penduduk, (2) adanya penemuan baru, (3) adanya pertentangan atau konlik masyarakat dan (4) terjadinya pemberontakan atau revolusi. Adapun faktor-faktor yang manyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan dari luar masyarakat sendiri adalah: (1) sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia, (2) peperangan, (3) pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Dalam kacamata antropologi, Geertz (1983:85) mengatakan setiap perubahan tidak sedramatis seperti apa yang dikatakan oleh ahli ekonomi, melainkan setahap demi setahap dalam jangka waktu yang lama. Perubahan dimulai dari perubahan-perubahan di dalam nilai-nilai kehidupan masyarakat dan karakteristik fungsi lembaga-lembaga masyarakat, kemudian merembas melalui kehidupan keluarga, sistem pendidikan, organisasi-organisasi ekonomi dan politik untuk pada akhirnya muncul sebagai perubahan-perubahan sosial budaya yang besar di masyarakat.

Koentjaraningrat (2002:23) mengatakan dalam masyarakat yang sedang bangkit membangun diperlukan konstruk yang berisi akan nilai-nilai yang berisi budaya yang berorientasi masa depan.

Sedangkan menurut Gillin dan Gillin (dalam Basrowi 2005:155) juga mengemukakan tentang perubahan sosial yaitu merupakan variasi dari cara-cara hidup yang telah diterim, yang disebabkan baik karena perubahan-perubahan, kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun kakrena adanya difusi atau penemuan-penemuan sanitasi.

Selain adanya faktor yang mempengaruhi, ada faktor penghambat perubahan meliputi: (1) Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat, (2) sikap masyarakat tradisional, (3) kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, dan (4) prasangka terhadap hal-hal yang baru. Adapun faktor pendorong dari perubahan yaitu: (1) sistem pendidikan yang telah maju, (2) sistem lapisan yang terbuka, (3) penduduk yang heterogen, dan (4) toleransi terhadap perubahan yang menyimpang.

Selain itu ada faktor pendorong, yaitu: (1) Sistem pendidikan yang maju, (2) Sistem masyarakat yang terbika, (3) penduduk yang heterogen dan (4) toleransi terhadap perubahan yang menyimpang.

  1. 2.         Perubahan Perilaku Ekonomi Pasca Pembangunan

Untuk memahaimi tentang perubahan perilaku ekonomi pasca pembangunan dapat dipelajari dari beberapa kajian, misalnya kajian Rochana, dan Inkeles. Menurut Rochana (1993:36-38) terdapat tiga pola mata pencaharian pada masyarakat pasca pembangunan. Tiga pola dominan tersebut adalah petani, pedagang dan penjual jasa. Pola petani mempunyai karakteristik sebagai berikut; mempertahankan nilai-nilai lama, penduduk pendukung pola ini didominasi oleh kaum tua, tidak mudah berubah terhadap arus perubahan, tidak ingin pindah mata pencaharia, berkeinginan untuk menikmati hari tua dengan tenang, dan petani emrupakan bagian dari hidupnya. Pola mata pencaharian yang kedua adalah pedagang. Golongan yang kedua ini didukung dengan cuikup modal untuk berwirausaha, tergolong penduduk pendatang, bersifat adaptif terhadap pembangunan, mampu membaca situasi dan peluang, memiliki pendapatan, kelompok pendukungnya berusia muda. Ketiga, yaitu penjual jasa, golongan ini didukung dengan ekonomi lemah, pendidikan rendah, dan mengalami hambatan dalam mengantisipasi perubahan.

Menurut Inkeles (dalam Suwarsono, 1994:31), ada enam karakteristik manusia modern, karakter tersebut adalah sebagai beriku:

  1. Terbuka terhadap pengalaman baru. Manusia modern selalu berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru.
  2. Manusia modern akan memiliki sikap untuk semakin independen terhadap berbagai bentuk otoritas tradisional, seperti orang tua, kepala suku (etnis) dan raja.
  3. Manusia modern percaya akan ilmu pengetahuan, termasuk percaya akan kemampuannya untuk menundukkan alam semesta.
  4. Manusia modern memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi. Mereka berkehendak untuk meniti tangga jenjang pekerjaannya.
  5. Manusia modern memiliki rencana jangka panjang. Mereka salalu merencanakan sesuat jauh ke depan dan mengetahui apa yang mereka capai dalam waktu lima tahun ke depan.
  6. Manusia modern terlibat aktif dalam peraturan politik. Mereka bergabung dalam berbagai organisasi kekeluargaan dan berpartisipasi aktif dalam urusan masyarakat lokal. Menurut Michael Robbins (dalam Mulyono, 1991:57) mayarakat yang membangun dikatakan juga bahwa masyarakat tersebut telah mengalami modernisasi.

Polanyi (dalam Sairin, 2002:17) sistem ekonomi pada masyarakat modern berbeda dengan pada masyarakat primitif, atau tradisional. Pada masyarakat modern yang hidup dengan sistem ekonomi pasar, gejala ekonomi tampil sebagai suatu institusi sosial yang berdiri sendiri, karena pasar memiliki potensi sistemik untuk mengatur kondisi dirinya sendiri. Sebaliknya pada masyarakat tradisional sistem ekonomi terjalin menyatu dengan sintitusi sosial lainnya, dengan sistem kekerabatan, dengan sistem religi, dengan sistem polotik lokal dan lainnya.

Belshaw (1981:154) mengatakan ciri pokok pasar modern adalah penggunaan uang yang luas sebagai kesatuan hitung dan alat tukar, seperti halnya dengan berat serta ukuran-ukuran nilai uang yang dapat diatur oleh kekuasaan dan distandarisasikan oleh pemerintah. Semua komoditi disetiap sistem ekonomi mempunyai harga yang real. Artinya orang dapat menghitung biaya produksinya atau dapat mengamati beberapa nilai tukar terhadap komoditi lain. Ciri ekonomi pasar modern adalah kadar orientasi prestasi yang tinggi. Ciri ini yakni konteks polaritas antara peranan sosial berdasarkan prestasi dan peranan sosial berdasarkan asal-usul. Hal ini merupakan ciri dari semua masyarakat, tidak hanya dari ekonomi modern saja. Masalah ini berkisat pada orientasi prestasi golongan usahawan.

Ekonomi modern sangat tergantung dari adanya yang trampil, yang pada gilirannya tergantung dari sistem pendidikan teknik yang merata dan efektif dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan itu sendiri atau lembaga-lembaga serta sekolah-sekolah.

  1. 3.         Perilaku Konsumtif

Era globalisasi dicirikan dengan perdagangan bebas atau pasar bebas, dan kemajuan teknologi telah menghasilkan agama baru yang disebut sebagai materialime yang menjurus pada pola hidup konsumtif (Herlianto, 1997: 174). Perilaku konsumtif erat kaitannya dengan budaya barat, yaitu peradapan yang menyajikan berbagai bentuk kesenangan (entertaiment) dan kenikmatan (hedonisme). Membanjirnya barang-barang di pasaran mempengaruhi sikap seseorang terhadap pembelian dan pemakian barang. Seringkali juga dipengaruhi oleh sugesti dari iklan yang cenderung kurang realistis. Pembelian suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan (need), melainkan karena keinginan (want). Orang lebih mau membeli televisi dari pada buku, atau membeli produk yang tidak terlalu bermanfaat karena adanya potongan harga. Mereka lebih memilih membeli berbagai peralatan rumah tangga dari pada mendapatkan pengetahuan pendidikan. Beberapa orang dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama dikota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka membeli produk tidak lagi karena memang membutuhkan, tetapi dilakukan dengan alasan-alasan lain seperti mengikuti mode yang sedang beredar, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dll.

Perilaku manusia merupakan hasil dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap setimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini bersifat pasif (tanpa tindakan: berpikir, berpendapat, atau bersikap) maupun aktid (melakukan tindakan) Solomon (2002:6)

Menurut Weber konsumsi adalah jumlah pengeluaran suatu rumah tangga untuk membeli berbagai jenis barang dan jasa untk tingkat pendapatan dalam jangka waktu tertentu. Konsumsi adalah penggunaaan barang-barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang bisa berhubungan dengan masalah selera, identitas atau gaya hidup, sebab hal ini akan meningkatkan prestise dan solidaritas dalam kelomok (Damsar, 2003:120)

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan dengan “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menujuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok (Tambunan, 2007).

Perilaku konsumtif sendiri didefinisikan oleh Solomon (2002:453) sebagai sebuah studi tentang proses yang menghubungkan individu atau grup yang terpilih terhadap pembelian, penggunaan produk, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat, sedangkan Schiffman dan kanuk (2000:256) adalah suatu tingkah laku dari konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan menentukan produk jasa.

Konsumtif sebagai sebuah sikap dan perilaku sulit dijelaskan ketika dihadapkan dengan sebuah ke”lazim”an. Sementara produk asingpun sulit diterjemahkan ketika sistem investasi mengalami perubahan yang luar biasa. Dimana, bangunan-bangunan industri tidak lagi terpusat di negara-negara produsen, tetapi tersebar di negara-negara konsumen sendiri. Hal ini membuat orang sulit untuk membedakan mana yang konsumtif mana yang tidak.

Konsumsi adalah salah satu bagian dari aktivitas manusia yang tidak mungkan dihindarkan atau ditinggalkan selama manusia hidup. Konsumsi diartikan dalam arti luas meliputi dua wilayah yakni konsumsi fisik yang bersifat materiil, dan konsumdi batin yang bersifat kejiwaan. Namun demikian bukan berarti seseorang harus menjadi konsumtif atau boros.

Boros diartikan sebagai volume konsumsi yang melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Katakanlah tidak adanya keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Kalau kita sadar, mentalitas hidup boros ini didorong oleh apa yang namanyaarus konsumerisme. Dunia tempat kita berpijak sekarang didominasi dorongan untuk mengkonsumsi. Konsumsi adalah sebuah kebutuhan manusia demi kelangsungan hidupnya. Tapi, pada zaman ini mengkonsumsi menjadi kebutuhan yang menggila. Orang merasa belum hidup kalau belum mengkonsumsi. Sekarang di dunia ini menawarkan beragam kebutuhan baru agar orang mengkonsumsinya. Konsumerisme atau perilaku konsumtif sebagai anak kandung kapitalisme telah merasuk sampai ke jantung masyarakat. Pada kondisi ini, orang mengkonsumsi barang bukan lantaran butuh secara fungsional, melaikan karena teuntunan prestige (gengsi), status maupun sekadar gaya hidup (life style) (JJ Amstrong Sembiring, 2007).

  1. 4.         Perubahan Perilaku Konsumtif

Sebuah gejala yang tengah mewabah dalam situs kultural mayarakat dewasa ini adalah fenomena kelahiran tren-tren baru. Masyarakat terobsesi untukmenghadirkan tren-tren revolusioner dalam menanggapi gejolak perubahan jaman. Fenomena ini hakikatnya merupakan implementasi dari dinamika kebudayaan bersifat terbuka untuk mengalami perubahan.

Sejak beberapa tahun ini, persoalan hedonisme sempat menjadi pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat dimana hedonisme ini muncul akibat arus globalisasi. Hedonis merupakan suatu nilai hidup dimana nilai ini lebih mementingkan kesenangan dan diduga sebagai penyebab perilaku konsumtif yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat temasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok di dalam masyarakat (dalam Soekanto, 2001:305).

Perilaku konsumtif sendiri didefinisikan oleh solomon (2002:6) sebagai sebuah studi tentang proses yang menghubungkan individu atau grup yang terpilih terhadap pembelian, penggunaan produk, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat. Sedngkan Schiffman dan Kanuk (2000:345) adalah suatu tingkah laku dari konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menentukan produk,jasa dan ide.

Perilaku konsumtif menurut Engel (1990:3) adalah sebagai tindakan manusia secara lansung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang dan jasa ekonomis termsuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan memntukan tindakan-tindakan tersebut. Perilaku konsumtif dapat dilakukan seseorang atau kelompok konsumen dan masing-msing perilaku memiliki keunikan tersendiri. Perilaku konsumen individual tidak terlepas dari pengaruh konsumer yang berkelompok atau industrial consumer (Loudon dan Bitta, 1993:6).

  1. Perkembangan Pasar Swalayan di Masyarakat

Dalam era pembangunan dewasa ini mengalami perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat, menyebabkan manusia cenderung untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Salah satunya adalah pemenuhan akan kebutuhan sandang, karena pada hakekatnya kebutuhan sandang dan pangan merupakan kebutuhan utama bagi setiap orang. Sehingga dalam kondisi seperti ini menjadi peluang bagi pengusaha, pedagang eceran untuk menyediakan kebutuhan konsumen akan suatu tempat membeli barang, atau toko yang layak. Salah satu usaha eceran adalah swalayan.

Di indonesia akhir-akhir ini pasar swalyan berkembang sangat pesat. Swalayan berarti pembeli mejalankan sendiri proses pencarian produk yang akan dibelinya, menemukan, lalu mebandingkan dan memilih yang sesuai dengan kebutuhan. Swalayan ini umumnya berbetuk bangunan megah dimana berkumpul retailer segala macam komoditas mulai makanan, alat rumah tangga, tekstil dan garmen.

Terus meningkat menyebabkan tingkat persaingan di bidang bisnis retail yang ada semakin ketat sehingga menuntut pihak pengusaha untuk menyusun kebijakan dalam rangka menghadapi persaingan yang ada.

Untuk memahami kebutuhan konsumen bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana, tetapi bukan suatu yang mustahil untuk dilakuka. Menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila perusahaan memahami manusia secara psikologis secara keseluruhan. Kekuatan faktor sosial dan budaya serta prinsip-prinsip ekonomis dan strategis.

Sebagai kota yang sedang berkembang, kudus merupakan pasar yang cukup potensial bagi pengusaha retail dalam mengembangkan usahanya, pertimbangan tersebut didasarkan banyak warga masyarakat dari luar kota untuk menuntut ilmu di Kota Kudus dan sebagai salah satu pusat perbelanjaan, Swalayan ADA hadir untuk menambah banyak pilihan bagi konsumen menentukan keputusan pembelian produk yang disediakan oleh banyak pengusaha retail di dalamnya. Dari segi lokasi, swalayan ADA sangatlah strategis karena berada di jalan utama kudus-jepara.hal ini menunjukkan bahwa swalayan ADA memiliki kiat­­­-kiat tersendiri dalam melakukan kompetisi dengan pasar swalayan lainnya, diamana  swalayan ADA Kudus merupakan pasar swalayan terbesar di Kudus, bahkan terbesar di Jawa tengah.

Sebagaimana telah disinggung pada awal bab, bahwa perusahaan yang mampu bertahan pada era globalisasi ini adalah perusahaan yang bisa mengetahui seberapa besar pengaruh dari masing-masing alat bauran pemasaran yang dilakukan agar dapat mmepngaruhi keputusan-keputusan pembelian konsumen. Dengan mengetahui besarnya pengaruh tersebut, maka perusahaan akan lebih mudah untuk menentukan alat-alat bauran pemasaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi, kemampuan serta keadaan yang sedang dihadapi. Isal dengan adanya potongan harga yang sangat digemari oleh masyarakat kini, dan itu adalah salah satu straegi perusahaan untuk menarik konsumen.

 

  1. I.         METODE PENELITIAN
    1. 1.         Dasar Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor metode kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data skriptif beupa kat-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2004:4). Sementara itu Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2002:3) juga mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasan sendiri dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristiwanya. Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian kualitatatif dalam penelitian ini, tidak bertujuan untuk melekukan pengukuran atau tidak menggunakan prosedur-prosedur statistik dalam menjelaskan hasil penelitian. Penelitian kualitatif lebih mementingkan pada pola hubungan antara gejala yang diteliti. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian kualitatif yang berusaha dan menjelaskan suatu pola hubngan antara gejala atau peristiwa yang diteliti. Dengan metode tersebut secara langsung dapat menyajikan hubungan antara peneliti dan yang diteliti lebih peka.

Data yang diperoleh dalam penelitian ini berbentuk kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto. Dengan data yang berupa kata-kata maka penelitian kualitaitif mampu menjelaskan alur cerita maupun makna-maknnya. Penelitian ini berupaya menjelaskan, mendiskripsikan dan memahami secara menyeluruh terhadap perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada saat harga khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA Kudus.

  1. 2.         Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah pasar swalayan ADA Kudus yang terletak di Jl. Kudus Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, dan masyarakat Kudus sendiri.

  1. 3.         Fokus Penelitian

Dalam kajian fokus penelitiannya ada tiga yaitu:

  1. Perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga umum di pasar swalayan ADA Kudus,
  2. Perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga khusus di pasar swalayan ADA Kudus,
  3. Perbedaan perilaku konsumtif masyarakat pada harga Khusus dan Umum.
  4. 4.         Sumber Data Penelitian

Penelitian ini menggunakan tiga sumber yaitu informan, dokumen, pustaka. Adapun deskripsi dari sumber data penelitian adlah sebagab berikut:

  1. Informan

Informan adalah individu-individu tertentu yang mewancarai untuk keperluan informasi. Informan merupakan orang dapat memberikan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan ini dipilih dari beberapa orang yang betul-betul dapat dipercaya dan mengetahui objek yang diteliti (Koentjaraningrat, 1993:130). Dalam penelitian ini informannya adalah masyarakat Kudus sendiri yang berbelanja di pasar swalayan ADA.

  1. Dokumen

Dokumen dalam penelitian kualitatif merupakan alat pengumpul dat yang utama karena membuktikan hipotesis yang diaujkan logis dan rasional melalui pendapat, teori atau hukum-hukum yang diterima baik mendukung atau menolak hipotesis tersebut.

Dalam penelitian ini, dokumentasi yang diperlukan adalah dokumen atau arsip yang dapat memberikan keterangan yang jelas mengenai aktivitas pedagang dalam keseharinnya serta pembangunan pasar swalayan.

  1. Kepustakaan

Kepustakaan yang dimaksud adalah literatur dan hasil penelitian yang relevan.

  1. 5.         Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini ada yaitu:

  1. Metode Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki (Hadi, 1986:136). Metode observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai Perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga khusus dan harga umum di pasar swalayan ADA Kudus. Pada saat melakukan observasi peneliti terjun langsung ke lokasi penelitian, melakukan pengamatan serta melakukan pencatatan data yang diperoleh masih berupa gambaran umum. Hal ini karena nantinya data tersebut akan diolah lagi dan analisis.

Dalam menggunakan teknik observasi dapat mengandalkan pengamatan dan ingatan. Untuk mempermudah pengamatan dan ingatan maka dalam penelitian ini menggunakan (1) catatan. Dan (2) alat elektonik seperti kamera.

  1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak atau pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2004:135).

dalam penelitian ini digunakan dua teknik wawancara yaitu:

1)        Wawancara Terbuka

Wawancara terbuka dilakukan terbuka, akrab, dan penuh kekeluargaan. Dalam pelaksanaan wawancara ini, peneliti menemui langsung informan sesuai dengan waktu dan lokasi. Untuk memperoleh data yang sesuai dengan pokok permaslahan yang diajukan maka dalam wawancara digunakan pedoman pertanyaan agar memperoleh informasi yang bersifat umum.

2)        Wawancara Mendalam

Yaitu wawancara terjadi percakapan antara pewawancara dengan yang diwawancarai dalam usaha santai, kurang formal, dan tidak disediakan jawaban oleh pewawancara. Wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang sifatnya mendalam terhadap masalah-masalah yang diajukan.

  1. 6.         Validitas Data

Dalam sebuah penelitian, sebelumnya data dianalisis terlebih dahulu harus mengalami pemeriksaan. Teknik pengujian dalam menentukan validitas data adalah penggunaan teknik Triangulasi, yaitu tenik pemeriksaan dangan pemanfaatan sumber, membandingkan dan mengecek tingkat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam hal ini akan diperoleh dengan jalan membandingkan apa yang berkaitan tentang perilaku konsumtif masyarakat Kudus dalam berbelanja pada harga khusus dan harga umum di paswar swalayan ADA Kudus.

Dengan menggunakan Teknik Triangulasi dalam penelitian ini diharapkan nantinya akan memperoleh suatu hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

 

 

  1. 7.         Analisis Data

Analisis data kualitatif terdiri dari alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan; yaitu: reduksi data, penyajian data, dan ferivikasi.

 

  1. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan (Miles, 2000:18). Reduksi data dalam penelitian ini akan dilakukan terus menerus selama penelitian berlangsung. Adapun langkah-langkah yang kaan dilakukan dalam bagian ini menurut Miles (2000:17-18) yaitu; menajamkan analisis, menggolongkan atau pengkategorisasian data, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverrifikasi.

  1. Penyajian data

Penyajian data merupakan deretan dan kolom sebuah matriks untuk data kulaitatif dan menentukan jenis serta bentuk data yang dimaksudkan ke dalam kotak-kotak matriks (Miles, 2000:17-18). Adapun data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dengan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

  1. Menarik Kesimpulan/verifikasi

Kesimpulan merupakan tinjauan terhadap catatan yang telah dilakukan di lapangan. Penarikan kesimpulan sebenarnya hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh (Miles, 2000:20) mengatakan kesimpulan adalah tinjauan ulang pada pencatatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. Kekokohannya dan kecocokannya yaitu merupakan validitasnya. Adapun ketiga alur di atas, bila digambarkan dengan skema adalah sebagai berikut:

 

 

 

Sumber: Miles & Huberman (1992:20)

 

Pengumpulan data

 

 

Reduksi Data

Penyajian Data

Penafsiran Verifikasi dan Kesimpulan

 

 

 

 

 

 

Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data, setelah direduksi kemudian diadakan penyajian data. Apabila ketiga tersebut telah dilakukan maka ambil suatu keputusan atau verifikasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia

Belshaw Cyril, S. 1981. Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Modern. Jakarta: PT Gramedia

Damsar. 2002. Sosiologi Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Engel, James F.Blackwell, Roger D dan Miniard. 1992. Consumer Behavior. Chicago: The Dryden Pers

Geertz, Clifford. 1977. Penjaja dan Raja. Jakarta: PT Gramedia

Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research 2. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM

Joyomartono, Mulyono. 1989. Perubahan Kebudayaan dan Masyarakat Dalam Pembangunan. Semarang: IKIP Semarang Press

Koentjaraningrat. 1993. Metode-metode Penelitian masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Ma’ruf, Hendei. 2005. Pemasaran Ritel. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Miles Matthew. A. 1992. Analisis Data Kualitatif buku sumber tentang metode-metode baru. Alih Bahasa: Tjetjep Rohadi; Pendanping: Mulyanto. Jakarta: Universitas Indonesia Press

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya

Notoadmodjo, Soekidjo. 1993. Pengantar Pendidikan Kesehatan Ilmu Perilaku. Yogyakarta: Andi Offset

Pasaribu J.L dan Simadjuntak. 1982. Sosiologi Pembangunan. Bandung: Tarsito

Rochana, Totok dkk. 1993. Pengaruh Perubahan Alam Terhadap Perubahan Kebudayaan. Kasus Pembangunan Desa Sekaran Kecamatan Gunungpati Kodia Semarang. IKIP Semarang

Sairin, Sjafri dkk. 2002. Pengantar Antropologi Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial; Sketsa Teori Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Yogyakarta: PT Tiara Wacana

Schiffman, Leon G dan Lieslie Lazar kanuk. 2000. Consumer Behavior. USA: Prentice Hall

Sembiring, JJ Amstrong. 2007 Konsumerisme Media. http://rumahkiri.net/index.php?option=com.content&task=view&id=1044&Itemid=262…….110507

Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: PT Pustaka Grafika

Seokanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Solomon, Michael R. 2002. Consumer Behavior: Buying, Having and Being, 5 edition. New Jersey: Prentice Hall, inc

Suud, M. 1994. Modul Manajemen Bisnis Eceran. Yogyakarta: STIE Widya Wiwaha

Tambunan, Raymond. 2005. Informasi Psikologi Online: Remaja dan Perilaku Konsumtif http://www.duniaesai.com/psikologi/psi3.htm  (27 Mei 2007)

http://my.opera.com/Nyocor/blog/2008/01/08/gaul-melanda-generasi-muda-potret-sebuah-alienansi-budaya

 

 

PEDOMAN WAWANCARA PENELITIAN

 

  1. Judul

PERILAKU KONSUMTIF MASYARAKAT KUDUS DALAM BERBELANJA PADA HARGA KHUSUS DAN HARGA UMUM DI PASAR SWALAYAN ADA KUDUS.

  1. Pedoman Wawancara
    1. Identitas Informan

Nama                                   :

Umur                                    :

Jenis kelamin                        :

Pekerjaan                             :

Alamat                                 :

  1. Daftar Pertanyaan

1)        Apa yang melatar belakangi perilaku konsumtif yang berlebihan pada masyarakat Kudus?

2)        Sejak kapan mulai berbelanja di pasar swalayan ADA Kudus?

3)        Bagaimana tanggapan anda tentang pasar swalayan ADA dengan pasar lainnya atau pasar tradisional?

4)        Apa motivasi pengunjung datang ke pasar swalayan ADA?

5)        Apa yang kebanyakan dibeli saat berbelanja di ADA?

6)        Bagaimana harga dari produk yang dijual oleh pasar swalayan ADA?

7)        Dari kalangan masyarakat manakah yang selalu berbelanja di pasar swalayan ADA?

a)        Ibu rumah tangga

b)        Pedagang

c)        PNS

d)       Pegawai swata

e)        Pelajar atau remaja

 

8)        Apa saja barang kebutuhan yang sering dibeli oleh konsumen?

a)        Kebutuhan primer

b)        Kebutuhan sekunder

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEDOMAN OBSERVASI

 

 

Observasi difokuskan pada beberapa hal berikut ini:

  1. Kondisi Lokasi Penelitian
    1. Luas Pasar swalayan ADA Kudus
    2. Sarana dan prasarana yang terdapat di Pasar Swalayan ADA Kudus
    3. Jumlah karyawan

a)        Jenis kelamin

b)        Usia/umur

c)        Pendidikan

  1. Rata-rata Jumlah Pengunjung Tiap Bulan
  2. Motivasi pengunjung ADA Swalayan
  3. Karakter Pengunjung
    1. Umur
    2. Jenis kelamin
    3. Kelas ekonomi
    4. pekerjaan

 

 

 

 

Oleh RISKY ARIYANI SOSIOLOGI ANTROPOLOGI UNNES 2009