Kata “KEBUDAYAAN” seringlah kita dengar dalam keseharian kita. Tapi tahukah kamu makna dari kata tersebut? Begitu banyak rahasia dari makna kata itu. Karena setiap kata itu diterapkan pada tempat yang berbeda maka aplikasi dari kata itu mewujudkan sebuah wujud karya yang sangat luar biasa dan mempunyai keunikan tersendiri yang mencerminkan karakter dari masyarakatnya. Kebudayaan Indonesia sangat berlimpah ruah. Tapi sayangnya masyarakat Indonesia sendiri tidak sadar akan keberagaman kebudayaaan yang ada di Indonesia. Mungkinkah , kebudayaan kita direbut dahulu oleh negara lain, Baru kita menyadari betapa pentingnya kebudayaan kita ini. Disini saya tidak bermaksud untuk melecehkan ataupun membanding-bandingkan dengan bangsa yang lain. Hanya kita generasi muda saat ini haruslah tahu akan pentingnya sebuah nilai kebudayaan. Sebenarnya kita kritis akan pentingya apa yang kita miliki, tapi itu muncul ketika kita dibakar amarah oleh mereka.

Kata kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta, buddhayah yaitu bentuk jamak dari buddi yang berarti akal. Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal. Bila dilihat dari kata dasarnya, kata budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi. Dari pengertian tersebut kemudian dibedakan antara budaya yang berarti daya dari budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa.[1]

Kebudayaan dapat didefinisikan juga sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.[2]

Dalam kajian mengenai kebudayaan, kebudayaan dilihat  terdiri atas unsur-unsur yang masing-masing berdiri sendiri tetapi satu sama lainnya berkaitan dalam usaha-usaha pemenuhan kebutuhan manusia. Unsur-unsur kebudayaan tersebut adalah: (1) bahasa dan komunikasi; (2) ilmu pengetahuan; (3) teknologi; (4) ekonomi; (5) organisasi sosial; (6) agama; dan (7) kesenian.[3]

Secara sederhana, pengertian kebudayaan dan budaya dalam Ilmu Budaya Dasar (IBD) mengacu pada pengertian sebagai berikut:[4]1) Kebudayaan dalam arti luas adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang diperoleh melalui belajar. Istilah kebudayaan digunakan untuk menunjukkan hasil fisik karya manusia, meskipun hasil fisik karya manusia sebenarnya tidak lepas dari pengaruh pola berpikir (gagasan) dan pola perilaku (tindakan) manusia. Kebudayaan sebagai suatu sistem memberikan pengertian bahwa kebudayaan tercipta dari hasil renungan yang mendalam dan hasil kajian yang berulang-ulang tentang suatu permasalahan yang dihadapi manusia sehingga diperoleh sesuatu yang dianggap benar dan baik; 2) Kebudayaan dalam arti sempit dapat disebut dengan istilah budaya atau sering disebut kultur (culture, bahasa Inggris) yang mengandung pengertian keseluruhan sistem gagasan dan tindakan. Pengertian budaya atau kultur dimaksudkan untuk menyebut nilai-nilai yang digunakan oleh sekelompok orang dalam berpikir dan bertindak. Seperti halnya dengan kebudayaan, budaya sebagai suatu sistem juga merupakan hasil kajian yang berulang-ulang tentang sesuatu permasalahan yang dihadapi manusia.

Dalam khazanah antropologi Indonesia, kebudayaan dalam perspektif klasik pernah didefinisikan oleh Koentjaraningrat sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia yang diperoleh dengan cara belajar. Dalam pengertian tersebut, kebudayaan mencakup segala hal yang merupakan keseluruhan hasil cipta, karsa, dan karya manusia, termasuk di dalamnya benda-benda hasil kreativitas/ciptaan manusia. Namun dalam perspektif antropologi yang lebih kontemporer, kebudayaan didefinisikan sebagai suatu sistem simbol dan makna dalam sebuah masyarakat manusia yang di dalamnya terdapat norma-norma dan nilai-nilai tentang hubungan sosial dan perilaku yang menjadi identitas dari masyarakat bersangkutan.[5]

Menurut  Djojodigoena dalam bukunya Asas-asas Sosiologi (1985) mengatakan bahwa budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.[6] Cipta adalah kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia segala hal yang ada dalam pengalaman lahir dan batin. Hasil cipta berupa berbagai ilmu pengetahuan bersumber pada kenyataan yang ada. Karsa adalah kerinduan manusia untuk menginsyafi sangkan paran, yakni dari mana manusia sebelum lahir (sangkan), dan kemana manusia sesudah mati (paran). Lalu muncullah berbagai sistem kepercayaan dan agama. Rasa adalah kerinduan manusia akan keindahan, sehingga menimbulkan dorongan untuk menikmati keindahan. Manusia merindukan keindahan dan menolak sesuatu yang buruk. Buah perkembangan rasa terjelma dalam berbagai bentuk norma keindahan yang kemudian menghasilkan berbagai macam kesenian.

Kebudayaan sebagai identitas Nasional menunjukkan betapa kebudayaan adalah aspek yang sangat penting bagi suatu bangsa karena jelaslah bahwa kebudayaan juga merupakan jati diri dari bangsa itu sendiri. Kebudayaan Nasional bersumber pada puncak-puncak kebudayaan lokal atau kebudayaan daerah di seluruh Indonesia yang selaras dengan norma-norma berbangsa dan bernegara. Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari kebudayaan daerah yang ada di negara tersebut. Kebudayaan daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka dengan penduduk-penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama lain.[7] Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada kebudayaan Nasional.

Indonesia tersusun dari jumlah 470 suku bangsa, 19 daerah hukum adat.[8] Jika ditinjau dari segi bahasa, ada sekitar 726 bahasa daerah yang tersebar di seluruh nusantara. Walaupun begitu, suku Jawa tersebar ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke negara yang ada di seberang.

Indonesia memiliki ratusan kelompok etnis. Tiap etnis memiliki budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, dan Eropa, termasuklah kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.

Secara graris besar khazanah kekayaan atau artefak budaya tradisional Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam, tarian, ritual, ornamen, motif kain, alat musik, cerita rakyat, musik dan lagu, data makanan, seni pertunjukan, produk arsitektur, permainan tradisional, senjata dan alat perang, naskah kuno dan prasasti dan tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.[9] Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari berbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya.

Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Beberapa contoh yang diuraikan di atas sengaja untuk membuktikan opini di atas dan sekaligus menegaskan bahwa Indonesia adalah benar-benar bangsa yang kaya raya, memiliki segalanya. Indonesia adalah satu-satunya negeri dengan kekayaan alam terlengkap di dunia. Indonesia dapat kita ibaratkan  sebagai seorang primadona yang menjadi rebutan para pengagumnya. Mereka melakukan apapun juga untuk merebutnya, meskipun dengan cara-cara yang memalukan dan vulgar seperti pencurian kekayaan budaya, mematenkan, atau menggunakan secara komersial.

Kebudayaan dikenal karena adanya hasil-hasil atau unsur-unsurnya. Unsur-unsur kebudayaan terus menerus bertambah seiring dengan perkembangan hidup dan kehidupan. Manusia mengembangkan kebudayaan; kebudayaan berkembang karena manusia. Manusia disebut makhluk yang berbudaya, jika ia mampu hidup dalam atau sesuai budayanya. Sebagian makhluk berbudaya, bukan saja bermakna mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu atau warisan nenek moyangnya; melainkan termasuk mengembangkan hasil-hasil kebudayaan.

Di samping kerangka besar kebudayaan, manusia pada komunitasnya, dalam interaksinya mempunyai norma, nilai, serta kebiasaan turun temurun yang disebut tradisi. Tradisi biasanya dipertahankan apa adanya; namun kadangkala mengalami sedikit modifikasi akibat pengaruh luar ke dalam komunitas yang menjalankan tradisi tersebut. Misalnya pengaruh agama-agama ke dalam komunitas budaya dan tradisi tertentu; banyak unsur-unsur kebudayaan misalnya puisi-puisi, bahasa, nyanyian, tarian, seni lukis dan ukir diisi formula keagamaan sehingga menghasilkan paduan atau sinkretis antara agama dan kebudayaan.

Seharusnya kita sebagai pewaris kebudayaan dari leluhur, patut berbangga hati. Kita sebagai penerus generasi bangsa terlalu tenang hati menyikapi adanya konflik budaya yang terjadi di antar Negara kita. Kita yang terlalu ramah dan baik hati atau malah kebangetan tidak sadar akan kekayaan yang ingin direbut dari kita.

Budaya tak akan pernah bisa memungkiri sebuah keniscayaan, bahwa ia bisa berubah, hilang, dan berganti dengan budaya baru, yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sebab budaya diciptakan dan berada di tengah-tengah masyarakat yang hidup dalam kehidupan yang dinamis. Budaya, dalam segala bentuknya, entah berupa adat istiadat, artefak (berbentuk benda) ataupun berbentuk sebuah tradisi, pergelaran, serta kirab, memiliki potensi yang sama untuk hilang, terlupakan. Tapi apakah kita serta merta membiarkan budaya itu hilang begitu saja di depan mata kita. Sungguh ironi sikap acuh yang berkembang di indonesia sekarang.  Memang ada bentuk-bentuk kebudayaan yang hilang egitu saja tanpa adanya kesadaran dari kita semua. Setidaknya ada dua bentuk hilangnya budaya. Pertama, hilangnya makna dari sebuah budaya. Hal ini disebabkan kurangnya regenerasi yang secara turun-temurun diwarisi oleh makna luhur tradisi tersebut. Hilangnya makna ini sudah terjadi saat ini. Harus kita akui bahwa hanya sebagian kecil dari kita saat ini yang tahu secara utuh makna di balik tari Jaipong, Saman, Kecak, Batik, Reog dan lainnya. Kedua, hilangnya budaya secara keseluruhan, baik bentuk maupun maknanya. Hal ini selain disebabkan oleh hilangnya peradaban suatu masyarakat karena bencana alam maupun lainnya (sebagai contoh kebudayaan kerajaan Tambora yang hilang karena letusan Gunung Tambora yang menghancurkan seluruh kerajaan). Selain itu juga disebabkan karena kesengajaan masyarakat untuk meninggalkan budaya tersebut. Mungkin dianggap kuno, maupun tidak membawa manfaat pada kehidupan kekinian.

Semoga dengan sedikit bacaan yang saya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membaca. Syukur jika ada sebuah inovasi berupa tindakan yang nyata untuk mengembangkan kebudayaan kita, KEBUDAYAAN INDONESIA TERCINTA, amin….

_Jinggara_


[1] Sugiarti dan Trisakti Handayani, Kajian Kontemporer Ilmu Budaya Dasar  UMM Press, Malang, 1999, hal. 17.

[2] Parsudi Suparlan,  Suku bangsa dan Hubungan Antar Sukubangsa,  Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian, Jakarta, 2005, hal. 5.

[3] Ibid, hal. 2-3

[4] Sugiarti dan Trisakti Handayani, hal. 17-18.

[5] Sinar Harapan,  27 Mei 2004.

[6] Sugiarti dan Trisakti Handayani Ibid. hal. 8.

[7] Dari pola kegiatan ekonomi misalnya, kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam yaitu: ) kebudayaan pemburu dan peramu; 2) kebudayaan peternak; 3) kebudayaan peladang,; 4) kebudayaan nelayan.

[8] Lihat Agustini Rahayu, Pariwisata: Konseptualisasi Kebudayaan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, 2006.