Pada masyarakat tengger ada beberapa hal yang dianggap mempunyai kekuatan (magis), diantaranya adalah

  • Dalam upacara kematian, Danyang / pepunden dianggap keramat (sakral) oleh masyarakat Tengger. Danyang itu sendiri merupakan tempat keramat yang digunakan untuk membakar bunga bunga, boneka boneka yang terbuat dari pelepah pisang dan kemudian dibakar sampai habis.
  • Pawang hujan dipercaya bias mengendalikan hujan.
  • Tempat yang disakralkan salah satunya adalah Sanggar Tunggal Jati yang merupakan tempat sembahyang bagi para umat Hindu disana. Apabila masuk harus disucikan terlebih dahulu dengan air suci, untuk perempuan harus suci (tidak dalam keadaan menstruasi), tidak boleh berpikir maupun berkata tidak baik.
  • Padmasana merupakan tempat meletakkan sesaji, biasanya isi sesaji terdiri dari buah buahan yang dipotong kecil kecil yang dimasukkan ke Tamping ( dari daun pisang ). Padmasana biasanya diletakkan di pertigaan atau peempatan jalan dan sebagaian ada yang di depan rumah.
  • Tamping yang berisi bunga bunga dan jenang merah maupun putih yang diletakkan di depan dan di belakang rumah yang bertujuan untuk menangkal bala atau malapetaka, penyakit dan hal hal buruk yang akan menimpa keluarga tersebut.
  • Masyarakat Tengger tidak terlalu mempercayai adanya santet,pellet, tenun atau hal hal sejenisnya, karena hal tersebut jarang terjadi du masyarakat Tengger.

Masyarakat Tengger menganggap berbagai hal yang menyalahi adat istiadat agama adalah tabu, yang diantaranya adalah :

  • Dilarang melangkahi pawon,jika dlanggar jaahnya akan direbut oleh orang lain.
  • Dilarang adanya pernikahan yang masih aa hubungan darah/keluargaatau disebut papagan wali dan apabila larangan ini dilanggar, maka bal / malapetaka akan datang
  • Jika dalam pemilihan calon dukun, ketika pelantikan lupa akan mantra itu pertanda alam tidak mengijinkan menjadi dukun, dan calon dukunharus diganti.
  • Untuk disekitar kawasan Bromo diperingatkan tidak boleh membawa batu batu dari sana dan tidak boleh buang air kecil menghadap Kawah Bromo.
  • Untuk di dalam pure (tempat sembahyang ) tidak boleh berpikiran berkata dan berbuat yang tidak baik. Bagi perempuan yang haid tidak diperbolekan masuk ke dalam Pure.


UPACARA UPACARA ADAT DI TENGGER

Pada masyarakat Tengger ada beberapa upacara adat yang diantarang sebagai berikut :

1.      Kasada,

Upacara kasada diperingati pada bulan ke 10 atau kasada (dalam kalender Jawa) antara bulan Agustus September. Tujuan dari kasada adalah untuk sedekah bumi yaitu hasil pertanian dan peternakan. Fungsi dari upacara tersebut adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Sedekah bumi itu setengahnya dimasukkan ke dalam kawah gunung Bromo dan sebagian diletakkan di lautan pasir ( biasanya disebut Ongkek ). Waktu pelaksanaan Kasada dimulai jam 12 malam dan sebelumnya dibawa, maka harus diletakkan terlebih dahulu di Pura Luhur Poten untuk dibacakan mantra, setelah itu baru kemudian dilempar ke kawah. Upacara Kasada juga disebut sebagai Upacara labuh Sesaji. Upacara adat pada masyarakat tengger secara komunal ada 6, antara lain adalah :

  • Upacara Karo
  • Pujan Kapat yaitu pemujaan bulan ke empat.
  • Pujan kapitu yaitu pemujaan bulan ke tujuh.
  • Pujan Kawalu yaitu pemujaan bulan ke delapan.
  • Pujan Kasanga yaitu pemujaan bulan ke sembilan.
  • Pujan kasada yaitu pemujaan bulan ke duabelas.

2.      Upacara Galungan

Upacara galungan merupakan upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat tengger yang dilakukan dengan cara, masyarakat Tengger membawa berbagai macam makanan yang kemudian dibawa ke Sanggar dan bersembahyang bersama, setelah itu makanan makanan tersebut dimkan bersama.

3.      Upacara Kuningan

Kuningan sejenis upacara sembahyang hari besar sebelum kasada. Yang bertujuan untuk menyelamati warga. Biasanya dilaksanakan pada Rabu Agung.

4.      Upacara Karu

Upacara seperti upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa terutama yang beragama islam, yang biasanya dilaksanakan pada hari lebaran, yang tujuanya bersilaturahmi dengan tetangga. Biasanya sebelum upacara ini dilakukan pemujaan pada arwah keluarga yang telah tiada dipura bersama sama satu desa.

5.      Upacara Sadoran

Yaitu upacara adat yang dilakukan untuk memperingati kelahiran manusia dahulu kala. Dalam upacara ini terdpat prosesi pemanggilan roh-roh halus.

AGAMA MASYARAKAT TENGGER

Mayoritas masyarakat Tengger adalah beragama Hindu. Ajaran spiritual masyarakat Tengger adalah “Siwa Budha”, tetapi sekarang adalah Hindu. Adapun tiga prinsip ajaran Hindu masyarakat Tengger antara lain :

  • Pemujaan kepada Tuhan
  • Pemujaan kepada Leluhur
  • Pemujaan kepada alam semesta.

Akan tetapi antara Religi dengan kepercayaan masyarakat Tengger lebih kuat kepercayaannya dibandingkan religi/agamanya. Religi/agama lebih sebagai pelengkap kepercayaan (adat) masyarakat Tengger.

Konsep sembahyang umat Hindu adalah menghadap Segara Gunung. Ketika masyarakat tersebut berada di wilayah Gunung maka tempat tempat sembahyang/pure harus menghadap ke Gunung seperti halnya pada masyarakat Tengger yang tinggal diwilayah Gunung Bromo, maka seolah olah mereka menghadap ke Gunung Bromo.

RITUS PERALIHAN

  • Prosesi Kelahiran

Dalam masyarakat tengger tidak terlalu sakral, ada beberapa prosesi yang hanya dilakukan oleh orang orang tertentu, diantaranya adalah 7 bulanan yaitu selamatan yang diadakan ketika usia kandungna berumur 7 bulan dan dilakukan upacara selamatan dengan adanya dukun sebagai orang yang mendoakan, selamatan dengan mendoakan bayi dengan makanan berupa cepal, maupun pisang yang beraneka macam. Selainitu ketika bayi berusia 44 hari maka dilaksanakan acara lek lekan (adat Jawa) berupa nasi tumpeng. Setelah itu upacara Turun Tanah atau biasa disebut “Ngrosoki” . Ketika bayi beranjak dewasa diadakan Selamatan yang disebut “Indung”. Ada juga upacara “Potong/Tugel Kuncung” yaitu prosesi potong rambut seperti halnya pada sinkretisme masyarakat Jawa.

  •  Perkawinan

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan tercapainya suatu pernikahan yang pertama adalah menanyakan hard an tanggal kepada kepala desa, yang dilakukan mempelai pria. Yang kedua mencocokan tanggal dan hari kepada dukun adat untuk disesuakan dengan weton Jawa. Yang kertiga lamaran dilakukan oleh orang tua pria. Tata cara perkawinan ada dua yaitu pawilahan atau ijab Kabul. Yang kedua Walagara, atau temu manten.

Tidak ada batasan tetapi dalam perkawinan masyarakat kembali pada yang bersangkutan artinya masyarakat tengger menikah dengan orang yang berasal dari masyarakat luar tengger hanya saja kembali pada keyakinannya. Jika pengantin wanita berasal dari tengger maka tata cara proses pernikahan melalui proses hindu. Bias juga dikataka tidak ada aturan untuk persyaratan pernikahan.

  • Kematian

Siste ngaben Jawa dalam system jawa penguburannya tidak sama dengan adat hindhu di Bali. Masyarakat tengger sendiri mempunyai kawasan dengan agama Islam di Jaawa yaitu dimakamkan dengan mengenakan kain kafan tetapi dengan badan menghadap ke atas / terlentang dengan kepala diposisi selatan menghadap kawah G.Bromo. sesudah dimakamkan dibuatkan boneka yang terbuat dari daun daun tertentu dan pelepah pisang kemudian dibakar di Danyang atau pepunden. Upacara ini disebut ntas-ntasan.upacara ini biasanya dilakukan ketika keluarga yang bersangkutan mempunyai biaya yang besar karena upacara tersebut membutuhkan prosesi yang cukup rumit. Dalam upacara ini, adapaun penyerahan sesaji yang jumlahnya disesuaikan dengan arwah yang di entas-entaskan. Adapun tujuanya yaitu untuk penghapusan dosa. Di dalamnya masyarakat atau keluarga tersebut wajib menyerahkan sesaji yang isinya berbagai jenang merah dan putih dan berbagai buah-buahan yang dipotong kecil-kecil dan berbagai bunga, yang dimantrai oleh dukun. Setelah itu ada penghapusan dosa yang disimbolkan dengan ayam yang dilepaskan, kemudian diberi beras, di boneka duplikat tadi diberi sejumput beras pada bagia kepala boneka, jika beras itu habis maka dosanya dipercaya akan diampuni semuanya.