Pendahuluan       

Saat ini peradapan manusia telah jauh berkembang dan memasuki era digital. Perkembangan teknologi informasi, terutama informasi digital akhir-akhir ini mengalami peningkatan yang sangat pesat. Peningkatan ini ditandai dengan banyaknya teknologi informasi saat ini yang telah mendominasi disemua aspek kehidupan masyarakat dan hampir di seluruh lapisan masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi, telah mengubah pola perilaku masyarakat dan peradabannya secara global. Sebagaimana yang disampaikan oleh Oetomo,dkk, bahwa;

“Pola kehidupan sehari-hari telah berubah sejak adanya teknologi internet, karena dengan adanya tekonologi internet, bumi seakan menjadi desa kecil yang tidak pernah tidur, semua jenis kegiatan dapat difasilitasi oleh teknologi internet”      (Oetomo, dkk, 2000:17).

 

Perkembangan teknologi informasi telah pula menyebabkan pudarnya batas-batas teritorial dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi dan budaya secara signifikan yang berlangsung begitu cepat. Teknologi memang telah memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia hampir pada semua aspek kehidupan. Dengan segala kecanggihanya telah memudahkan aktivitas manusia. Salah satu wujud dari teknologi pada masyarakat digital saat ini adalah internet. Teknologi internet telah memberi kemudahan pada masyarakat.

Perkembangan teknologi informasi telah membawa manusia, yang dahulu terbatas oleh teritorial kepada masyarakat global tanpa sekat, yang disebut dengan globalisasi. Menurut Robertson (1992), globalisasi mengacu kepada penyempitan dunia secara intensif dan peningkatan kesadaran kita atas dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi-koneksi global dan pemahaman kita atas mereka. Penyempitan dunia ini dapat dipahami berdasarkan institusi-institusi moderitas. Sementara intensifikasi kesadaran dunia secara reflektif dapat dipersepsikan secara lebih baik lewat sudut pandang kebudayaan (Barker, 2011:117). Perkembangan teknologi informasi memang tidak mampu menciptakan masyarakat global, namun secara materi mampu mengembangkan ruang gerak kehidupan baru bagi masyarakat, sehingga tanpa disadari, komunitas manusia telah hidup dalam dua kehidupan, yaitu kehidupan masyarakat nyata dan kehidupan masyarakat maya (cybercommunity) (Bungin, 2009:163). Kemunculan dari teknologi informasi mengembangkan bentuk baru kontrol komunikasi dan informasi yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Tidak hanya pada dunia real saja, namun menembus batas pada dunia maya yang geraknya tidak terkontrol.

Globalisasi bukan hanya terkait pada aspek ekonomi semata, namun merambah ke masalah pemaknaan kultural. Meskipun kita bukan bagian dari negara ataupun kebudayaan dunia yang satu, namun kita dapat mengidentifikasikan proses kultural global, disinilah ruang dan waktu tidak menjadi kendala. Globalisasi saat ini lebih diidentikan dengan kemajuan teknologi yang pesat. Teknologi itu dibarengi dengan adanya sebuah pintu kemudahan dalam mengakses yaitu lewat internet.

Internet yang merupakan singkatan dari interconnection networking yang merupakan jaringan komputer yang luas yang merupakan kumpulan dari jaringan komputer yang lebih sederhana namun bervariasi. Dengan bahasa yang dikemas lebih sederhana, internet dapat diartikan sebagai jaringan dari jaringan. Internet mampu menghubungkan satu komputer di sebuah negara dengan komputer di negara lainnya dengan keanekaragaman informasi dan berbagai fasilitas layanan yang berpotensi untuk meningkatkan efektivitas hidup manusia. Internet pada dasarnya diciptakan dengan tujuan sabagai sarana untuk mempermudah, menjadikan lebih efektif, dan sesuatu yang bisa dijadikan kepraktisan, namun, seiring dengan berjalannya waktu internet juga menjadi alat untuk mempermudah kejahatan.

Internet termasuk media baru di ersa digital kini, manusai dapat bergaul dan bersosialisasi dengan memanfaatkan media internet (cyber media). Sementara itu, tempat kita bersosialisasi dan berinteraksi dalam dunia internet tersebut umumnya dikenal sebagai ruang maya (cyber space). Bungin mendeskripsikan ruang interaksi dalam dunia internet itu sebagai berikut:

“dalam cyber space tersebut, ada masyarakat  yang menghuninya, dan disebut sebagai cyber comunity, walaupun kita tidak melihatnya melalui indera pengkihatan, namun kita dapat menyaksikan dan merasakannya sebagai sebuah realitas yang nyata” (bungin, 2005:27).

Perkembangan teknologi internet dengan jejaring sosialnya telah membentuk suatu masyarakat baru dalam wujud maya atau virtual. Masyarakat ini merupakan wajah lain dari masyarakat nyata yang disebut cyber society/ cyber space/ cyber community. Bentuk masyarakat ini berada pada ruang virtual, di mana tidak dibutuhkan kehadiran secara fisik langsung dari anggota masyarakatnya. Suatu ruang yang tidak lagi mengkotak-kotakkan latar belakang dari masing-masing anggota masyarakat, yang kemudian menjadikanya sebagai masyarakat global. Berbagai proses sosial terjadi seperti menyapa, transaksi, berdagang, komunikasi, dan lain sebagainya. Perkembangan cyber society ini menjadi sebuah simbol kemajuan peradapan manusia. Dengan menggunakan teknologi ini seakan tidak mempunyai batas yang bermakna untuk dijadikan penghambat dalam berinteraksi.

Selain memberikan kemaslakatan bagi kehidupan manusia, dampak penemuan ini juga berpengaruh terhadap sisi gelap kehidupan manusia. Masalah-masalah sosial dalam dunia nyata juga turut merambah ke dalam dunia maya ini. Perilaku-perilaku kejahatan dalam cyber society yang biasa disebut cyber crime turut meramaikan dinamika kehidupan di dalamnya. Dalam dunia nyata, lebih dikenal dengan tindakan kriminalitas atau penyimpangan-penyimpangan sosial lainnya seperti pencurian dan perampokan Bank, dalam cyber society terdapat bentuk kasus dari kriminalitas serupa seperti pembobolan rekening namun lewat fasilitas internet Banking. Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, tenyata memberikan dampak positif dan negatif pada masyarakat yang mengkonsumsi kemajuan teknologi tersebut.

Maraknya cyber crime yang terjadi di dalam cyber society, menunjukan gejala pergeseran masalah sosial dari dunia nyata ke dunia maya. Sifat cyber society yang tanpa batas teritorial dan tanpa kendali, di mana tindak kejahatan sulit untuk dilacak, dan telah menjadi ruang yang ideal dan sempurna untuk berkembangnya masalah-masalah sosial. Tindak kejahatan ini dalam prateknya menggunakan teknologi telematika canggih yang sulit untuk dilihat  dan dapat dilakukan di mana saja. Sehingga potensi untuk berkembangnya masalah sosial menjadi semakin tinggi dan sulit untuk dilakukan kontrol sosial.

Dalam cyber society yang merupakan ruang yang lemah akan aturan dan norma-norma, permasalahan sosial seperti ini menjadi hal yang hanya lewat saja dan berlalu tanpa ada tindakan yang tegas. Cyber society sulit dikontrol karena sifatnya yang terlepas dari ruang sosial tiga dimensi yang kita huni, dan bersifat anarkis karena ia tidak memiliki sistem social values and norms yang sama untuk mengaturnya. Penyebab lain adalah ketika menjadi resiko negara berkembang yang mencoba melakukan perubahan diantara negara-negara maju.

Begitu banyak bentuk dari cyber crime yang ada di Indonesia. Salah satu yang masih menjadi permasalahan pokok adalah cyberporn tentang foto syur yang dengan mudah tersebar di internet. Selain pencurian, salah satu masalah sosial dalam dunia nyata yang banyak berkembang dalam cyber society adalah maraknya gambar porno atau cyberporn yang dengan mudah diakses oleh setiap orang. Bahkan anak kecilpun bisa dengan mudah mengakses di internet lewat warnet-warnet yang ada di sekitar lingkungan.  Masalah gambar-gambar porno dan bahkan video sengaja di upload untuk dikonsumsi masyarakat luas. Cyberporn merupakan salah satu bentuk cyber crime yaitu Illegal content yang merupakan sebuah tindakan memasukkan data dan atau informasi ke dalam internet yang dianggap tidak benar, tidak etis dan melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum. Dan beberapa diantaranya bisa tergolong melanggar nilai dan norma pada masyarakat tertentu.

Menjadi sebuah keresahan untuk masyarakat ketika sisi gelap dalam masyarakat nyata, kini mulai bergeser ke dalam cyber society yang membuka ruang untuk cyber crime, bahkan pada tataran lebih lanjut bisa berujung konflik pada anggota cyber society. Ketika kita menjelajah internet, dengan mudah kita temukan situs-situs yang melakukan praktek cyberporn ini. Banyak sekali gambar-gambar ataupun video-video yang tersedia di internet. Untuk mengaksesnya kita cukup membuka website yang menyediakan halaman dengan keyword yang sudah familiar.

Maraknya praktek cyberporn  dalam dunia maya yang kemudian muncul menjadi konflik di permukaan masyarakat cyber community inilah yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Di mana telah terjadi suatu masalah sosial yang mulai merambah ke dunia maya. Hal ini menjadi penting untuk dibahas, karena masalah pornografi yang menjadi masalah sosial yang tak kunjung usia di dunia nyata, kini mulai merambah ke cyber cpace/cyber society. Gambar vulgar atau syur dan video porno sendiri dalam dunia nyata dikategorikan sebagai perbuatan immoral.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : Pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi.

Pengertian ‘pornografi’ secara umum telah dipahami oleh setiap individu. Dengan pola pikir individu yang berbeda, kata ‘pornografi’, terlepas dari konotasi positif dan negatifnya, memiliki sejumlah arti yang hampir sama dalam keragaman komunitas masyarakat kita. Pornografi sering dikonotasikan dengan pertunjukan seks, cabul, bagian tubuh terlarang yang dipertontonkan (khususnya perempuan), dan segala bentuk aksi yang membuat pendengar atau indidu yang menyaksikan terangsang layaknya manusia normal.

Permasalahan yang masih erat dengan pornografi, di Indonesia sendiri masih sangat tinggi. Setiap tahunnya selalu ada peningkatan tentang kejahatan yang bersumber dari pelaku cyberporn. Dibuktikan dengan semakin meningginya tingkat kriminalitas atau penyimpangan sosial di dunia nyata, yang merupakan dampak dari tingginya mengkonsumsi gambar atau video di media internet. Semua permasalahan di dunia maya akhirnya menembus ke dunia nyata pula. Di era yang melek akan teknologi, akhirnya membuat peluang selebar-lebarnya bagi mereka pelaku cyberporn untuk mencoba menyalagunakan kebermanfaatan internet untuk menyebar gambar atau video ke dunia virtual.

kemajuan teknologi ini justru diselewengkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, dalam hal ini yang penulis bahas adalah mengenai pornografi dan pornoaksi. Hal tersebut termasuk ke dalam kejahatan dalam teknologi informasi atau pada masa kini dikenal dengan istilah cybercrime (Mahzar, 1999:9). Saat ini sudah sangat banyak situs-situs yang menampilkan atau menyuguhkan tentang pornografi dan pornoaksi. Ini menjadi seperti suatu “penyakit” yang merusak moral bagi para pengguna internet. Terlebih lagi aksesnya yang mudah dan tidak terbatas, dan kebanyakan yang mengunjungi situs- situs porno tersebut adalah kalangan anak muda, bahkan anak dibawah umur pun sudah dapat “menikmatinya”. Kasus ini menjadi semakin marak, terlebih di Indonesia.

Undang-undang pornografi yang telah dibuat tersebut hanya memberantas sebagian kecil dari masalah pornografi yang sesungguhnya. Majalah-majalah porno memang sudah tidak lagi beredar di Indonesia, tetapi film-film porno bajakan masih berkeliaran di sudut-sudut jalan secara sembunyi-sembunyi. Kemudian situs-situs porno milik Indonesia sudah sepenuhnya diblokir oleh pemerintah, tetapi situs-situs porno luar negeri masih dengan bebas bermunculan di internet.. Dan mekipun sebagian warnet memblokir situs-situs porno tersebut, namun tetap saja ada warnet yang membiarkan penggunanya bebas mengakses situs-situs porno bahkan mendownloadnya dengan kecepatan download yang luar biasa.

Sebenarnya yang menjadi kekkhawatirkan dari masalah pornografi di dunia maya adalah efek kecanduannya sama seperti narkoba. Apalagi sekarang banyak situs porno luar negeri menyediaan fasilitas download gratis tanpa menjadi member. Apabila seseorang begitu mudahnya mendapatkan film porno di dunia maya dengan biaya murah, otomatis ia akan kecanduan dan akan terus mendownload film porno di internet. Pelaku dari cyberporn ini tidak bisa dilacak dengan mudah, karena kekaburan dan kecanggihan dari teknologi itu sendiri.

Dengan adanya kejahatan yang ada di dunia maya yang semakin tidak terkontrol, beberapa anggota cyber society merasa ikut risih dan mencoba mencari solusi dengan cara membuat cyber community dalam cyber space. Media sosial yang digunakan tidaklah hanya satu atau dua. Tapi hampir di semua media sosial, bermunculan komunitas-komunitas yang menentang dan menolak secara keras terhadap cyberporn. Media sosial yang paling sering dipakai adalah ‘Fecebook’ dan ‘Twetter’ yang notabennya sangat familiar di cyber community. Mereka membuat group, yang kemudian mencoba membuat argumen secara bebas. Disinilah muncul konflik yang merupakan sambungan dari dampak cyberporn. Konflik yang muncul berupa adu argumen antara pengguna media sosial. ada yang berasal dari satu komunitas, adapun yang di luar komunitas. Mereka saling mempertahankan argumen. Mengatas namakan agama, moral, budaya, hukum, dan lainnya. Ada beberapa yang menentang adapun yang justru membenarkan adanya cyberporn. Dan menganggap hal yang wajar saja. Semua tertumpah dalam argumen yang dibawa setiap individu dalam cyber space. Sanggahan dan sanggahan akhirnya menjadi sebuah konflik antar pihak yang bisa berujung di dunia nyata, berupa konflik antar kelompok.

Pembahasan

Dalam kasus di atas, penulis mencoba menganalisis dengan teori Fenomena bergesernya masalah sosial pornografi dalam cyber space ini, menurut Ulrich Beck. Yang pada teori tentang  risk society. Beck menjelaskan, “risiko” (risk), sebagai kemungkinan-kemungkinan kerusakan, baik fisik, termasuk mental dan sosial disebabkan oleh proses teknologi dan proses-proses lainya, seperti proses sosial, politik, komunikasi, dan seksual. Adanya teknologi internet, sebagai simbol kemajuan yang memunculkan cyber society juga tak luput dari “resiko”. Selain memberikan kemudahan dan kemaslakatan bagi umat manusia, internet juga menimbulkan masalah-masalah sosial seperti cyber crime dan cyberporn. Masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, yang lebih mudah dikendalikan dengan sistem social values and norms, kini ketika bergeser mengikuti perkembangan teknologi internet, menjadi sulit untuk dikendalikan. Resiko dalam cyber society adalah sulitnya pengendalian masalah sosial karena cyber society merupakan dunia virtual yang bersifat beyond everything dan anarkis sebagai kecanggihan dari teknologi itu sendiri. Hal ini oleh Beck dikategorikan dalam “risiko sosial”, yang menggiring pada tumbuhnya penyakit sosial : ketidakpedulian, ketakacuhan, indisipliner, fatalitas, egoisme dan immoralitas.

Selain itu, penulis mencoba mengupas dengan kacamata konflik dari George Simmel. Simmel melihat dala, kehidupan sosial, bahwa individu tidak hanya mau melibakan dari dalam konflik, tetapi bersemangat untuk berkonflik. Kalau isu-isu yang penting tidak ada, orang mau berkonflik karena isu sepele atau kecil. Simmel mengatakan bahwa ungkapan permusuhan di dalam konflik membantu fungsi-fungsi positif, sepanjang konflik itu dapat mempertahankan perpecahan kelompok dengan cara menarik orang-orang yang sedang berkonflik. Jadi konflik, itu dipahami sebagai suatu alat yang berfungsi untuk menjaga kelompok sepanjang dapat mengatur sistem hubungan (Wirawan, 2012:82).

Disini dapat dilihat bahwa di media sosial, masing-masing individu cenderung untuk melakukan konflik dengan cara memberikan opini yang sebenarnya justru salingg memicu individu lain ikut memberikan argumen dengan doktrin ataupun dogma-dogma baru dan berlandaskan agama, budaya, ataupun dari segi hukum. Akhirnya muncullah konflik antar kelompok yang pro dan kontra. Sepanjang masih ada konflik tentang cyberporn maka komunitas-komunitas tersebut masihlah menunjukkan eksistensi diri maupun kelompok untuk menunjukkan identitas ataupun latar belakang politik.

Kesimpulan

Bahwa kemajuan teknologi membawa dampak positif dan negatif. Dari berbagai kemudahan yang diberikan dari teknologi, masyarakat cenderung menyalahgunakan dengan melakukan cyber crime pada cyber space. Salah satu yang paling disorot adalah permasalahan tentang cyberporn yang dengan bebas beredar di internet, tanpa ada penyelesaian. Permasalahan yang semula berada pada lingkup riil, kini merambah ke dunia maya, yang memunculkan sebuah konflik antar cyber community.

 

Daftar Pustaka

 

Bungin, Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Kencana. Jakarta.

………………….              2005. Pornomedia: Sosiologi Media, Konstruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan Seks di Media Massa. Jakarta:Prenada Media.

Chris Barker. 2011. Cultural Studies : Teori dan Praktek. Kreasi wacana : Yogyakarta.

Mahzar, Armedi. 1999. Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Kehidupan Keberagaman Manusia. Mizan: Bandung.

Wirawan, I.B. 2012. Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta:Kencana.

Piliang, Yasraf A. 2009. Humanity : Resiko Tinggi. Diakses dari http://rumahwacana.wordpress.com/category/humanity. 09 Desember 2013.

Kamus Besar Indonesia.