RA

 

 

Feminisme adalah suatu bentuk gerakan kaum perempuan untuk memperoleh persamaan derajat dengan dan kebebasan dari penindasan lelaki dan aturan-aturan yang mereka buat. Istilah feminisme sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Charles Fourier, seorang sosialis Perancis yang banyak mempengaruhi perkembangan gerakan feminisme di seluruh dunia.

Gerakan feminisme yang pertama kali muncul di Eropa dari abad ke-17 pada awalnya merupakan bentuk protes dari kaum perempuan terhadap gereja. Pada masa itu, gereja merupakan institusi tertinggi yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pada dasarnya kekuasaan gereja yang terlalu besar dan aturan-aturannya yang bersifat mutlak memang dianggap sewenang-wenang dan membuat sulit masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, kaum perempuan sebagai kelompok minoritas bahkan menerima perlakuan yang lebih tidak menyenangkan lagi karena mereka dianggap sebagai makhluk golongan kedua setelah lelaki. Salah satu tokoh feminis yang paling awal adalah seorang wanita bangsawan Perancis bernama Simone de Beauvoir yang menyuarakan aspirasinya melalui karya sastra.

Di indonesia saat ini, sangat subur akan proses akumulasi modal kapitalis. Kepatuhan pemerintah Indonesia terhadap kebijakan neoliberal, sumber daya alam yang masih melimpah, tenaga kerja massal yang menjadi eksploitasi kapitalis di Indonesia. Kapitalis dalam tenaga kerja dimaknai dalam bentuk perampasan kepemilikan alat produksi yang dimiliki perempuan ini tidak hanya berupa pemisahan alam dan teknologi dari perempuan, namun juga penundukan seksualitas atas dirinya sebagai sosok perempuan.

Perubahan sosial menuju kapitalisme di Dunia Ketiga membawa dampak komoditasi dan industrialiasasi masyarakat yang dijajah. Dua proses ini dapat dianalisis secara lebih khusus untuk pedesaan dengan mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan internal, penyebab-penyebab, dan agen-agen perubahan agraris (Astuti, 38:2011). Untuk memaknai perubahan posisi perempuan dalam konteks sosial tertentu, perlu diketahui secara umum begaimana sosial masyarakat tersebut berubah. Perubahan sosial secara terkait dengan evolusi masyarakat, dari masyarakat substensi ke masyarakat prakapitalis, dan kemudian menjadi masyarakat kapitalis.

Tahapan perubahan sosial terkait evolusi pada kaum perempuan menjadi perhatian khusus bagi negara. Masalah pemberdayaan perempuan atau bagaimana perempuan diletakkan dalam kehidupan bernegara kembali penting untuk dikupas, karena pada titik timpang. Komitmen negara atas pemberdayaan dan keseteraan gender belum cukup kuat. Negara dan kekuatan yang memihak perempuan dalam masyarakat belum mampu mengatasi masalah perempuan, seperti pemerkosaan, bentuk kekerasann perempuan, dan pelecehan seksual, ketidak adilan dalam ketenagakerjaan, keadilan dalam mendapatkan hak mereka. Salah satu hak yang saat ini yang disoroti adalah permasalahan buruh perempuan di Indonesia. Kepentingan kapitalis masuk dalam ketenagakerjaan buruh perempuan di Indonesia. Anggapan masyarakat yang telah mengakar bahwa perempuan bukan pencari nafkah utama, menyebabkan posisi mereka yang tidak berhak atas tunjangan keluarga, dan posisi perempuan yang rentan akan PHK, dengan alih-alih atau alasan yang bias diskriminasi gender. Hampir sama yang terjadi pada pekerja perempuan Indonesia yang ada di luar negeri. Yang menjadi korban dari kapitalisme. Dengan latar belakang yang rendah pendidikan membuat posisi mereka semakin termarginalkan.

Nilai tukar tenaga kerja wanita belum dihitung secara efektif; wanita juga tidak mendapatkan ganti kerugian atas kehilangan upah dan keuntungan, kesempatan-kesempatan pengembangan karier dan akses untuk waktu sengang (Moore, 264:1996). Perempuan tersubordinasi secara universal karena ada dikotomi yang diberlakukan dalam suatu masyarakat antara perempuan dan laki-laki. Jika perempuan bekerja di luar rumah selalu dikaitkan dengan kodrat perempuan yang tidak bisa maksimal ketika menjalani peran perempuan secara biologis. Terjadi tumpang tindih antara pemaknaan peran gender dan peran kodrati akhirnya membuat perempuan termarginalkan atas dirinya sendiri. Perempuan yang secara potensial dapat dilihat sebagai pelaku perubahan sosial dapat ditemui di semua kelompok sosial dan semua lapisan masyarakat. Dari kalangan elite sampai pada kalangan perempuan miskin. Pelaku perubahan dari kelompok perempuan kelas bawah yang mencoba menatasi kesulitan hidupnya dengan mencoba mencari pekerjaan di ranah publik, sebagai buruh. Perempuan-perempuan tersebut mempunyai peran strategis untuk perubahan sosial di desanya.

Salah satu contoh selain buruh adalah perempuan yang masuk ke ranah publik dengan bekerja sebagai TKW di Negara orang lain. Disini yang dilihat adalah sebuah gerakan perempuan pedesaan yang mencoba menembus batas nilai dan norma yang ada dimasyarakat tersebut. Disini perempuan yang dimaksud adalah perempuan yang masih kental dengan budaya patriarki. Dalam budaya patriarkhi yang selama ini berkembang di masyarakat akhirnya membagi gender secara diskriminatif. Pembatasan-pembatasan peran perempuan dalam budaya patriarkhi menunjukkan posisi perempuan yang pasif. Sering kita lihat, perempuan ditempatkan pada pekerjaan domestik. Sedangkan laki-laki pada sektor publik. Sosok perempuan pun yang menjadi TKW pun masih mendapat perlakuan diskrimasi gender, seperti pelecehan seksual, kekerasan secara fisik, dan lain-lain.

Pada dasarnya kecenderungan perempuan untuk meninggalkan rumah (bekerja di luar rumah, luar desa, atau luar negeri) dapat dilihat sebagai sebuah tanda dari adanya proses dekonstruksi atas realitas sosial yang baku. Mereka juga menunjukkan bahwa sebenarnya mereka (TKW) memiliki eksistensi sebagai pelaku atau agen untuk transformasi sosial, meskipun mereka tidak menyadarinya, dan tidak disadari oleh orang lain. Perempuan yang menjadi TKW mencoba membangun identitas baru bagi eksistensinya dan dalam lingkup yang lebih luas adalah untuk masyarkat.

Di Indonesia saat ini, bisa dikatakan bahwa belum ada gerakan perempuan yang massif. Massif dalam makna beranggotakan massa yang besar dan luas seta berspektif perubahan radikal pada tataran sistem sosial. Namun tidak berarti di Indonesia tidak mencapai kemajuan dalam melakukan sebuah perubahan sosial. Perubahan sosial tersebut terwujud dalam gerakan perempuan. berbagai kelompok perempuan saat ini selalu aktif dalam merespon semua isu kekerasan/pelecehan seksual dan pemiskinan yang terjad pada perempuan.

Salah satu kelompok sosial yang melakukan gerakan sosial berupa komite aksi yang mendorong capaian besar yaitu Komite Aksi Perempuan Sekber Buruh dan Komite Aksi Hari Perempuan Sedunia. Dalam aksi tersebut diangkat isu perlawanan terhadap sistem kapitalisme, patriarkhi, dan militerisme. Disinilah perempuan mencoba melakukan perubahan sosial untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba membela dan menuntut keadilan dari negara akan nasib mereka. Mereka mencoba membuat sistem tatanan sosial yang baru yaitu dengan tujuan jangka panjang, yaitu untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau institusi yang ada di dalam masyarakat. Dengan mereka membangun konstruksi yang capaiannya diluar dari kondisi sebelumnya.

Kaum perempuan mencoba membuka peluang yang sama dengan laki-laki, mendapatkan hak yang sama. Tidak mendapatkan diskriminasi, kekerasan atau bahkan pelecehan seksual. Perempuan mendapatkan hak yang sama untuk menunjukkan eksistensinya dengan laki-laki, yaitu mampu bersaing dengan sehat pada ranah domestik. Itulah salah satu bentuk gerakan perempuan di Indonesia.

 

 

 

………………….****………………….